MY WORLD

Dunia Kerja l Dunia Rumah l Dunia Kehidupan

Rumah Berkat

Filed under: Christianity — cisca at 1:44 pm on Thursday, September 25, 2008  Tagged ,
Setiap hari Minggu, saya selalu menyempatkan diri membaca Kompas Minggu pada kolom “aku dan rumahku”. Saya lupa judul pastinya, tetapi saya lebih suka menyebutnya demikian. Kolom itu menceritakan tentang rumah tinggal seseorang yang didesain untuk memenuhi kepuasan batin pemilik dan penghuninya. Tokoh yang dipilih bisa berupa tokoh terkenal, politikus, artis atau profesional di bidangnya. Siapapun mereka, biasanya cerita pokoknya berkisar tentang bagaimana mereka memilih lokasi, mendesain dan membangun rumah, memilih dan mengisi setiap sudut rumah, dan akhirnya bagaimana mereka menikmati kesehariannya.Kalau bicara desain, Kompas sudah menampilkan berbagai bentuk desain. Mulai gaya Jawa, peranakan, modern minimalis sampai model Romawi Kuno. Mulai rumah tinggal keluarga inti sampai rumah yang multifungsi, misalnya dilengkapi studio teater, studio lukisan atau ruang baca yang penuh buku. Pilihan perabot juga beragam, mulai dari kayu jati sampai logam, mulai dari perabot aliran minimalis alias secukupnya sampai yang penuh dengan lukisan, patung ataupun benda-benda lainnya. Semuanya menarik untuk disimak. Ada pengacara yang kolektor patung, ada politikus yang mantan artis, atau seniman yang senang menyendiri mencari ilham.

Bagi saya ini sangat menarik, karena saya bisa mempejari tipe-tipe manusia sukses yang ada dan apa yang dipilih mereka. Apa alasan yang melatarbelakangi dan bagaimana mereka sampai pada kepuasan atas segala usaha dan kerja kerasnya. Seringkali saya menemukan sesuatu yang baru yang dapat memperkaya pengetahuan saya atau pemahaman saya akan hidup. Tapi ada kalanya juga saya tidak mengerti sepenuhnya atau tepatnya bertanya-tanya bagaimana mereka bisa mencapai itu semua, dan yang lebih penting, bagaimana mereka bisa menyatakan kepuasan mereka terhadap hidup atau penyerahan terhadap hidup. Ada beberapa yang menyiratkan kesiapan hati jika dipanggil olehNya karena sudah mendapatkan semua impiannya. ”Saya bangun rumah ini untuk hari tua saya, untuk sisa hidup saya”, begitu mereka menyebutnya.

Teman, apakah kita sudah siap dengan hidup ini? Apakah kita sudah mencapai semua impian kita ? Sudah punya rumah, dalam arti yang sebenar-benarnya ¿ Rumah sebagai tempat tinggal, tempat berkumpul, tempat melepas lelah beban kehidupan, dan tempat untuk berpulang ke hakekat dasar manusia. Saya teringat dengan kisah yang pernah saya baca.

Suatu hari seorang pemborong bangunan meminta seorang tukangnya yang sudah tua untuk membangun sebuah rumah. Pemborong tersebut menyediakan uang dan tanah yang siap dibangun. Tukang bangunan dipersilahkan untuk membangun rumah sesuai dengan kehendaknya. Sedianya tukang bangunan tersebut sudah cukup tua dan akan mengakhiri masa pensiunnya. Dia sudah capek bekerja sebagai tukang bangunan dan ingin istirahat menikmati hidupnya. Tetapi dia kerjakan juga rumah yang diminta sang majikan meskipun dengan bersungut-sungut. Ini yang terakhir, pikirnya. Diplihnya bahan yang mudah didapat, dibangunnya sebuah rumah sederhana dengan penampilan yang sederhana. Dia tidak peduli bentuk akhir dari rumah tersebut karena dia merasa diberi kebebasan dan sudah capek. Sesuatu yang mengagetkannya akhirnya tiba. Setelah rumah tersebut siap, sang majikan memberikan rumah tersebut untuknya sebagai hadiah atas kerjasamanya selama ini. Tukang bangunan tersebut pun merenung dan menyesal. Seandainya dia membangun rumah yang kokoh, cukup luas dan bagus, tentuanya dia bisa menghabiskan masa tuanya dengan lebih indah, dibandingkan dengan rumah sederhana yang dibangunnya tidak dengan setulus hati.

Seringkali kita mau mengerjakan sesuatu dengan antusias bila kita tahu sejak awal apa imbalannya. Kita tidak mau memberikan lebih banyak perhatian dan usaha untuk sesuatu yang kita tidak jelas atau yang sudah menjadi rutinitas, meski kita tahu bahwa itu adalah tanggung jawab kita dan kita dibayar untuk itu. Ada uang ada barang. Kita cenderung untuk berpikir pendek akan sesuatu tugas yang diberikan. Asalkan tugas selesai dikerjakan, itu sudah cukup. Tidak perlu berpikir keras bagaimana membuat tugas itu menjadi menarik atau menjadi suatu tantangan keberhasilan. Apa yang saya pelajari dari kisah tadi adalah saya harus mengerjakan sesuatu dengan tulus, dengan sebaik-baiknya, karena saya tidak pernah tahu apa sesungguhnya yang akan saya dapatkan jika saya sudah menyelesaikannya.

Saya berharap suatu saat saya bisa mempunyai rumah impian saya. Rumah yang dipenuhi tumbuhan segar dan air gemericik yang memberi ketenangan. Rumah dengan ruang-ruang berpenyekat untuk memberi ruang pribadi bagi setiap penghuninya. Tetapi juga dengan ruang luas tempat berkumpul mempraktekkan cinta kasih. Rumah yang nyaman dan membuat betah siapapun yang menempati. Rumah yang diberkati karena ada campur tangan Tuhan untuk setiap kerja keras tulus kita.

Tidak lagi luas tanah yang menjadi ukuran, karena kandang domba pun bisa memberi bintang terang. Bukan lagi jenis perabot yang menjadi patokan, karena jubah gembala pun bisa menjadi alas yang empuk dan hangat. Mungkin suatu saat Kompas Minggu akan mengulas bagaimana membangun rumah berkat ini……… 

Message from God – Kirim pada 10 orang, maka…

Filed under: Christianity — cisca at 1:42 pm on Monday, September 8, 2008  Tagged , , ,
Beberapa hari yang lalu saya terima email dari seorang teman. Judulnya “message from God”. Isinya sungguh indah bahwa Tuhan akan mengambil alih semua problem kita hari itu. Bahkan Tuhan mengatakan juga bahwa Dia tidak memerlukan bantuan kita untuk bisa memecahkan problem kita. Indah bukan ?Bagaimana tidak indah dan nyaman, kalau setiap kali kita mempunyai persoalan, kita tinggal mencatat dan memasukkannya ke kotak pos dimana Tuhan akan mengambil surat kita dan dengan serta merta menghapus problem tersebut. Mungkin ada yang merasa senang karena sudah tidak perlu repot atau stres memikirkan masalahnya. Tapi bagaimana dengan kemampuan berpikir kita? Mungkin lama-kelamaan kita terbiasa dimanja dengan kotak pos pemecah masalah tersebut. Akan tetapi bukankah kita diminta untuk menyerahkan semuanya pada Tuhan?

Saya tidak akan membahas itu, karena saya lebih terusik dengan pesan singkat yang ada di bagian bawah email. YOU HAVE 20 MINUTES TO TELL 10 FRIENDS THAT YOU LOVE THEM (INCLUDING ME) SO I LOVE YOU! GO!

Wah, saya diminta dengan segera meneruskan email tersebut ke 10 orang teman dalam waktu 20 menit. Bagaimana kalau tidak ada 10 orang teman kristen yang mempunyai email? Bagaimana kalau saya membutuhkan lebih dari 20 menit karena seringkali saya memakai email kantor, dan itu artinya harus berbagi waktu dengan pekerjaan? So, I Love you! Jadi teman saya tadi akan mencintai saya kalau saya kembalikan email ini lagi ke dia!

Coba kita uraikan lagi dari awal. Jadi untuk mendapatkan berkat sebagai orang kristen, kita harus mempunyai minimal 10 email teman, bisa bekerja cepat dan jangan lupakan teman yang memberikan berkat. Upps, salah, ini cuma kalau kita mau dicintai teman kita itu. Wah, hampir saja saya terkecoh.

Beberapa bulan yang lalu dan beberapa bulan-bulan sebelumnya, saya pernah menerima sms yang isinya juga tentang berkat Tuhan. Anehnya seringkali disertai pesan singkat. Misalnya, ”kirimkan kepada 10 orang dalam waktu 1 x 24 jam, atau Anda akan mendapatkan bencana.” Atau yang lebih bargaining, ”Kirimkan kepada 10 orang, maka Anda akan mendapatkan berkat. Kirimkan kepada 20 orang, maka berkat Anda akan berlipat dua kali lipat. Buktikan sendiri!” Atau yang seperti sales letter, ”Kirimkan pada 7 orang dan Anda akan merasakan keajaiban dalam 3 hari!”.

Hhmm, ternyata B E R K A T sudah jadi barang komoditas. Mungkin sewaktu-waktu akan masuk juga dalam daftar bursa saham. Seringkali saya mengabaikan email ataupun sms-sms seperti itu. Tetapi pernah saya balas sms yang saya tidak tahu siapa dengan pesan, ”Tuhan itu memberikan berkat dengan gratis bahkan melimpah. Tidak ada persyaratan! Jangan mau dibohongi oleh sms seperti ini.”

Betul, teman. Jangan pernah mengambil pusing dengan email ataupun sms seperti itu, karena yang disenangkan hanya provider pulsa internet atau HP Anda. Dengan semakin banyak email ataupun sms dikirim, maka akan semakin banyak uang yang mengalir ke kantong mereka. Mungkin buat mereka, itulah berkat…..

The real God blessing is absolutely free… Kita tidak harus punya komputer, email, HP ataupun pulsa sms untuk bisa mendapatkan berkat Tuhan. Jadi abaikan saja….. kecuali Anda mau beramal sama provider yang notabene pasti sudah cukup kaya….

O P E R A S I

Filed under: Christianity — cisca at 1:40 pm on Friday, September 5, 2008  Tagged , ,

Operasi. Saya yakin sebagian besar orang merasa takut mendengarnya. Seringkali kata itu diulang dengan nada tanya dan muka yang agak meringis apabila mendengar dirinya, keluarga atau orang-orang yang dikasihinya perlu dioperasi. Yah, operasi memang bukan suatu hal yang menyenangkan. Yang saya bicarakan disini bukan operasi cantengan di jempol kaki yang bisa dilakukan sambil bercengkerama atau operasi plastik yang sengaja dilakukan untuk mempercantik diri. Tetapi operasi yang mau tidak mau harus dilakukan demi kehidupan yang lebih baik dibandingkan kondisi sakit yang melumpuhkan sebagian aktivitas. Tidak ada pilihan lain meski sudah mencari second atau bahkan third opinion, kecuali kita mau mencoba pengobatan alternatif.

Sebagian dari operasi tersebut masih menyisakan sedikit waktu bagi keluarga untuk berdiskusi. Tetapi sebagian lagi tidak memiliki banyak waktu, sehingga harus diambil tindakan sesegera mungkin. Itu yang saya alami pada saat saya kecelakaan di bulan Mei 2003. Tulang paha kanan saya patah dan harus dilakukan operasi pemasangan pen segera sebelum kondisi bertambah parah. Apa yang saya rasakan, pasti sebagian besar orang sudah tahu. Kaget, cemas, takut, sedih, menyesal, tidak percaya dan berbagai macam perasaan lainnya. Suami saya pun terlihat berusaha keras untuk menahan tangis yang hampir pecah. Saya pasrah karena tidak ada pilihan lain. Itu bisa saya lakukan karena saya masih sadar sejak kecelakaan sampai operasi dilakukan. Saya tidak pingsan sama sekali. Kadang saya pikir pingsan lebih baik karena saya tidak perlu berteriak menahan sakit. Tapi bila saya pingsan saat itu, cerita ini akan jadi berbeda.

Saya masuk ke ruang operasi dengan keadaan pasrah. Tangis saya sudah mereda karena sudah diberi obat penahan sakit. Tapi apa yang tertulis di pintu bagian dalam ruang operasi cukup mengejutkan saya. Saya tidak ingat persis kalimatnya, tetapi kira-kira seperti ini “Sudahkah Anda berdoa hari ini?” Dupss! Saya tidak ingat apakah saya sudah berdoa hari ini. Mungkin sudah. Doa singkat! Hanya ucapan terima kasih pada Tuhanku, sesaat setelah saya mendarat di bandara Jakarta dengan selamat sepulang dari Melbourne, Australia. Ya, saya tiba di tanah air pagi hari, dan kecelakaan naas itu terjadi pada sore hari yang sama di depan rumah saya sendiri. Saya segera melakukan doa singkat (lagi!), karena saya tidak punya cukup waktu. Saya menyerahkan semuanya dalam tanganNya. Biarkan Tuhan yang bekerja melalui seluruh proses operasi ini.

Operasi berjalan lancar dan semuanya terlihat baik-baik saja sampai beberapa hari ke depan. Kaki kanan saya dipasangi pen dan kaki kiri saya di gips keesokan harinya. Kejutan lain terjadi sekitar 5-6 hari setelah operasi. Kaki kiri saya tidak menunjukkan kemajuan berarti. Setiap gerakan sedikit saja bisa membuat saya berteriak sakit. Dokter memberikan pilihan pada saya. Operasi, agar penyembuhan lebih cepat, atau tetap di gips, tetapi harus ekstra hati-hati karena sakit. Dan itu cukup merepotkan, tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi siapapun yang menunggui saya. Saya hanya memerlukan beberapa jam untuk memutuskan bahwa saya akan mengambil pilihan pertama, operasi. Pertama, karena saya tidak kuat menahan sakit dalam waktu lama (bisa berbulan-bulan). Kedua, karena merasa hasil operasi pertama baik-baik saja. Dan ketiga karena saya yakin Tuhan mendukung saya!

Jangan tanyakan kenapa saya begitu percaya diri bahwa Tuhan mendukung saya, karena saya juga tidak tahu kenapa. Itu keyakinan yang ada di hati saya. Mungkin sama seperti ketika kita jatuh cinta pada seseorang. Kita tidak tahu dengan tepat kenapa kita menyukainya, karena perasaan yang lebih berperan, dan kita tidak bisa menyangkalnya. Suami saya mendukung keputusan saya. Lalu kami membuat janji operasi dengan dokter.

Tepat sekitar 30 menit sebelum saya digiring ke ruang operasi, pendeta dan beberapa teman gereja mengunjungi saya di rumah sakit. Kami berbincang-bincang mengenai kondisi saya dengan suasana biasa saja. Ketika pendeta mengetahui bahwa saya akan menjalani operasi kedua, mereka menanyakan kapan hal itu akan dilakukan. Saya jawab, “sebentar lagi.”

Mereka kaget dan mengira bahwa “sebentar lagi” adalah beberapa hari lagi. Kemudian saya tegaskan bahwa “sebentar lagi!”
“Maksudnya besok?” tanya Pak Pendeta, mencoba mengurangi waktu perkiraan pertamanya.
“Nggak, sebentar lagi!” jawab saya. “Mungkin 10-15 menit lagi saya sudah masuk ke ruang operasi.”
“Hah? Kok kamu seperti biasa saja, seperti bukan orang yang mau dioperasi. Betul?”
“Iya, betul, operasinya siang ini.”

Saya tidak perlu meyakinkan mereka lagi, karena 2 orang suster sudah datang dan mengatakan bahwa ruang operasi sudah siap dan saya bisa pergi sekarang. Pak pendeta dan rombongan akhirnya percaya. Mereka meminta waktu ke suster untuk berdoa. Kami pun berdoa. Dan saya, saya berdoa lagi di depan ruang operasi, tepat di depan pintu bertuliskan “Sudahkah Anda berdoa hari ini?” Tapi kali ini doa saya penuh keyakinan meskipun tetap singkat.

“Tuhan, kuserahkan semuanya padaMu. Biarlah hanya tanganMu yang melakukan ini semua, melalui para dokter dan suster yang ada. Terima kasih Tuhan.”

Proses operasi berjalan lancar, dan kaki saya sudah bisa digerakkan satu hari kemudian tanpa sakit. Digerakkan, maksudnya diangkat sedikit, miring sedikit ataupun ditekuk sedikit. Bukan berdiri atau berjalan, karena itu baru bisa saya lakukan 4-5 bulan kemudian. Paling tidak saya tidak terbujur kaku di atas tempat tidur.

Sesaat setelah kecelakaan, berbagai perasaan ada dalam diri saya. Sesaat sebelum operasi pertama, hanya tersisa pasrah. Sesaat sebelum operasi kedua seminggu kemudian, iman saya lebih kuat, karena saya yakin Tuhan ada di samping saya. Dia yang menguatkan saya karena sudah saya pasrahkan segalanya. Saya percaya bahwa tangan Tuhan yang mengerjakan itu semua.

Tahun 2005, saya menjalani lagi sebuah operasi kista di rahim dengan keyakinan penuh. Padahal saat itu saya bisa memilih untuk tidak dioperasi. Saya masuk ke ruang operasi dengan perasaan biasa saja, karena saya tahu Tuhan ada di sana. Tahun 2007, saya juga menjalani operasi pengangkatan pen di kedua paha saya. Juga suatu pilihan yang tidak harus saya lakukan, karena pen tidak harus diangkat bahkan sampai kematian menjemput kita. Satu-satunya perasaan yang ada adalah perasaan sebal dan jengkel karena suntikan obat bius di punggung sungguh sakit…. Dan saya harus cukup realistis karena fisik tetap harus sakit sedikit, seberapa banyak pun doa kita. Tapi dengan bersandar padaNya, kekhawatiran bisa hilang dan kekuatan menahan sakit akan lebih besar. Thanks God for your blessing for all these surgeries….

God Blessing on My Travelling Way

Filed under: Christianity — cisca at 1:33 pm on Wednesday, September 3, 2008  Tagged , , ,
Sebagai karyawan holding company yang mempunyai beberapa anak perusahaan dan afiliasi di berbagai kota, seringkali saya harus bepergian atau travelling. Kadang pulang pergi dalam 1 hari, tetapi kadangkala harus menginap beberapa malam. Capek, sudah tentu, karena bagaimanapun lebih enak diam bekerja di kantor daripada menghabiskan waktu di perjalanan. Belum lagi tambahan waktu yang harus saya alokasikan. Misalnya bila saya harus meeting jam sembilan pagi di Surabaya. Saya harus berangkat dari Jakarta dengan pesawat pukul enam pagi. Artinya dari rumah saya harus berangkat ke bandara pukul 5 pagi. Itu sudah dipilih waktu yang pas, artinya tidak perlu menunggu lama setelah check-in sampai masuk ke pesawat. Dan artinya lagi saya harus bangun tidur ekstra pagi, yaitu pukul 4, padahal biasanya saya berangkat kerja pukul 6.30 dari rumah.Kalau saya hitung lagi dengan waktu pulang, akan tambah lama waktu yang saya habiskan di perjalanan. Misalnya selesai meeting pukul 3 di Surabaya. Saya harus langsung ke bandara untuk mengejar pesawat pukul 5 sore ke Jakarta. Sampai di bandara Jakarta pukul 6.30. Itu pun kalau pesawat tidak delay atau terlambat. Sampai di rumah sekitar pukul 7.30, karena jam 6.30 tadi adalah waktu pesawat mendarat, dan saya perlu sedikitnya 15 menit untuk keluar dari pesawat sampai lobby bandara atau tempat parkir. Jadi untuk meeting sekitar 5 jam, saya harus menyediakan 8.5 jam untuk perjalanan panjang! Waktu di jalan lebih lama daripada waktu meeting! Melelahkan….!! (Itu masih untung kata orang Jawa, karena rumah saya tidak terlalu jauh dari bandara. Beda dengan teman-teman yang lebih jauh lokasinya….!)

Melelahkan itu pasti. Tetapi karena mau tidak mau harus saya jalankan, jadi saya memilih untuk bisa menikmatinya. I have to enjoy it! Begitulah susahnya jadi orang Kristen; kita harus berterima kasih dalam segala hal. Persoalannya adalah bagaimana saya bisa melakukannya atau tepatnya mengusahakannya kalau saya sendiri seringkali merasa berat meninggalkan anak-anak yang masih kecil ? Uang saku perjalanan ? Itu tidak seberapa, bahkan habis untuk membeli pulsa dan makanan kecil untuk oleh-oleh atau dimakan sendiri bila pesawat delay. Karir? Saya bukan tipe orang yang ngoyo dengan karir, dan terlebih di perusahaan tempat saya bekerja, karir tidak ditentukan oleh seberapa sering seseorang melakukan perjalanan dinas, tapi lebih ke faktor-faktor lain. Tanggung jawab pekerjaan? Bisa dibilang iya, karena saya harus memberi contoh untuk bawahan saya. Saya tidak mau dibilang sebagai atasan yang tidak bertanggung jawab. Jadi saya harus menekan ego saya.

Tapi itu bukan satu-satunya. Tuhan kita memberikan hal lain dalam perjalanan saya. Seringkali saya bertemu orang-orang yang diberkati Tuhan. Misalnya di pesawat saya melihat seseorang yang membuat tanda salib dan mengucapkan doa begitu pesawat akan lepas landas dan mendarat. Kadang saya jadi terusik dan ikut berdoa dalam hati. Coba kalau saya tidak bertemu mereka, kemungkinan besar saya tidak berdoa. Tidak hanya di perjalanan, tetapi sepanjang hari itu! Saya tidak menyapa Tuhan saya!

Pernah saya satu kamar hotel dengan teman katolik yang membawa alkitab dan membaca beberapa ayat sebelum tidur dan saat bangun tidur. Apa yang saya lakukan? Saya cepat-cepat berdoa novena ketika dia mandi! Dan uniknya, beberapa tahun kemudian saya punya kesempatan sekamar lagi dengannya di Jepang. Sebelum dia membuka alkitabnya, saya sudah lebih dulu berdoa! Buat saya, ini hebat. Buat Tuhan, inilah caraNya menyapa saya……

Lain waktu saya berbicara dengan seseorang mengenai banyak hal. Sesuatu diluar pekerjaan, keluarga ataupun lingkungan yang sering saya hadapi. Ini bisa menambah wawasan saya mengenai hal lain yang sebelumnya saya tidak tahu dan juga iman saya. Misalnya ada seorang kristen yang mempunyai usaha membuat furniture mewah. Dia tidak mengejar untung semata, tapi lebih membantu beberapa orang agar tetap mempunyai pekerjaan. Atau seorang katolik yang menjadi broker properti cukup berhasil, tetapi anak-anaknya tetap diajar mandiri dengan sekolah sambil kerja. Sekolah, bukan kuliah! Atau seorang beragama budha yang menjadi pengajar spiritual dengan spesialisasi pada olah pernafasan. Yah, seorang budhist, tetapi saya yakin dia diberkati Tuhan karena berkatNya terpancar diwajahnya.

Pernah saya bertemu teman yang curhat mengenai problema hidupnya. Sekedar jadi pendengar beberapa menit, dan setelah itu semuanya selesai. Saya tidak tahu siapa dia, tidak pernah bertemu lagi, bahkan namanya pun tidak tahu. Lain waktu malah saya yang curhat dengan orang berbeda, yang saya juga tidak tahu siapa dia. Tapi setelah itu beban di hati terasa berkurang banyak. Dia jadi seperti malaikat sesaat yang dikirim Tuhan untuk tempat saya bersandar sejenak.

Itulah yang saya sebut berkat Tuhan. Selalu ada hal baru setiap saat. Hal kecil yang bisa berdampak besar. Saya percaya Tuhan selalu ada di dekat saya. Saya tidak perlu berharap-harap apa yang akan saya temukan di perjalanan berikutnya. Saya juga tidak serta merta jadi ingin sering bepergian. Tapi saya tahu bahwa saya masih diingat pencipta saya…… That’s God blessing on my travelling way…