Rumah Berkat
Bagi saya ini sangat menarik, karena saya bisa mempejari tipe-tipe manusia sukses yang ada dan apa yang dipilih mereka. Apa alasan yang melatarbelakangi dan bagaimana mereka sampai pada kepuasan atas segala usaha dan kerja kerasnya. Seringkali saya menemukan sesuatu yang baru yang dapat memperkaya pengetahuan saya atau pemahaman saya akan hidup. Tapi ada kalanya juga saya tidak mengerti sepenuhnya atau tepatnya bertanya-tanya bagaimana mereka bisa mencapai itu semua, dan yang lebih penting, bagaimana mereka bisa menyatakan kepuasan mereka terhadap hidup atau penyerahan terhadap hidup. Ada beberapa yang menyiratkan kesiapan hati jika dipanggil olehNya karena sudah mendapatkan semua impiannya. ”Saya bangun rumah ini untuk hari tua saya, untuk sisa hidup saya”, begitu mereka menyebutnya.
Teman, apakah kita sudah siap dengan hidup ini? Apakah kita sudah mencapai semua impian kita ? Sudah punya rumah, dalam arti yang sebenar-benarnya ¿ Rumah sebagai tempat tinggal, tempat berkumpul, tempat melepas lelah beban kehidupan, dan tempat untuk berpulang ke hakekat dasar manusia. Saya teringat dengan kisah yang pernah saya baca.
Suatu hari seorang pemborong bangunan meminta seorang tukangnya yang sudah tua untuk membangun sebuah rumah. Pemborong tersebut menyediakan uang dan tanah yang siap dibangun. Tukang bangunan dipersilahkan untuk membangun rumah sesuai dengan kehendaknya. Sedianya tukang bangunan tersebut sudah cukup tua dan akan mengakhiri masa pensiunnya. Dia sudah capek bekerja sebagai tukang bangunan dan ingin istirahat menikmati hidupnya. Tetapi dia kerjakan juga rumah yang diminta sang majikan meskipun dengan bersungut-sungut. Ini yang terakhir, pikirnya. Diplihnya bahan yang mudah didapat, dibangunnya sebuah rumah sederhana dengan penampilan yang sederhana. Dia tidak peduli bentuk akhir dari rumah tersebut karena dia merasa diberi kebebasan dan sudah capek. Sesuatu yang mengagetkannya akhirnya tiba. Setelah rumah tersebut siap, sang majikan memberikan rumah tersebut untuknya sebagai hadiah atas kerjasamanya selama ini. Tukang bangunan tersebut pun merenung dan menyesal. Seandainya dia membangun rumah yang kokoh, cukup luas dan bagus, tentuanya dia bisa menghabiskan masa tuanya dengan lebih indah, dibandingkan dengan rumah sederhana yang dibangunnya tidak dengan setulus hati.
Seringkali kita mau mengerjakan sesuatu dengan antusias bila kita tahu sejak awal apa imbalannya. Kita tidak mau memberikan lebih banyak perhatian dan usaha untuk sesuatu yang kita tidak jelas atau yang sudah menjadi rutinitas, meski kita tahu bahwa itu adalah tanggung jawab kita dan kita dibayar untuk itu. Ada uang ada barang. Kita cenderung untuk berpikir pendek akan sesuatu tugas yang diberikan. Asalkan tugas selesai dikerjakan, itu sudah cukup. Tidak perlu berpikir keras bagaimana membuat tugas itu menjadi menarik atau menjadi suatu tantangan keberhasilan. Apa yang saya pelajari dari kisah tadi adalah saya harus mengerjakan sesuatu dengan tulus, dengan sebaik-baiknya, karena saya tidak pernah tahu apa sesungguhnya yang akan saya dapatkan jika saya sudah menyelesaikannya.
Saya berharap suatu saat saya bisa mempunyai rumah impian saya. Rumah yang dipenuhi tumbuhan segar dan air gemericik yang memberi ketenangan. Rumah dengan ruang-ruang berpenyekat untuk memberi ruang pribadi bagi setiap penghuninya. Tetapi juga dengan ruang luas tempat berkumpul mempraktekkan cinta kasih. Rumah yang nyaman dan membuat betah siapapun yang menempati. Rumah yang diberkati karena ada campur tangan Tuhan untuk setiap kerja keras tulus kita.
Tidak lagi luas tanah yang menjadi ukuran, karena kandang domba pun bisa memberi bintang terang. Bukan lagi jenis perabot yang menjadi patokan, karena jubah gembala pun bisa menjadi alas yang empuk dan hangat. Mungkin suatu saat Kompas Minggu akan mengulas bagaimana membangun rumah berkat ini………
